Selasa, 10 Mei 2011

KESEHATAN IBU DaN ANAK

Antisipasi penyakit turunan
“Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Oleh sebab itu cegahlah penyakit agar tidak sampai mampir pada anak. Lakukanlah observasi melalui data riwayat kesehatan keluarga. Dengan demikian kita dapat melakukan antisipasi agar jangan sampai penyakit warisan yang tidak diinginkan itu diidap oleh anak kita.

Jika penyakit turunan dialami anak sejak lahir, kita tidak boleh menyerah pasrah. Lakukan berbagai usaha agar anak dapat hidup layaknya anak normal.

Penyakit apa saja yang dapat diturunkan orangtua ataupun keluarga kepada anak ?

OBESITAS
       Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Anak dikatakan obesitas bila berat badannya lebih dari 20% dari berat ideal. Faktor keturunan merupakan hal yang mempengaruhi terjadinya kegemukan. Dari hasil penelitian di Amerika Serikat dilaporkan bahwa anak-anak dari orangtua normal mempunyai peluang 10% menjadi gemuk. Peluang itu akan bertambah menjadi 40-50% bila salah satu orangtua menderita obesitas dan akan meningkat 70-80% bila kedua orangtuanya menderita obesitas.

Oleh karena itu bayi yang lahir dari orangtua yang gemuk akan mempunyai kecenderungan menjadi gemuk. Gemuk disaat bayi atau anak-anak mempunyai kemungkinan sulit menjadi kurus pada waktu dewasanya karena anak-anak sudah membentuk sel yang jumlahnya lebih dari normal.

Bukan berarti obesitas tidak dapat dicegah. Angka diatas adalah resiko karena gaya hidup sehat tetap menjadi faktor utama apakah anak mengalami obesitas atau tidak.

Cegahlah si kecil agar tidak mengalami obesitas dengan tindakan antara lain  :
~ Mengurangi asupan makanan kaya gula seperti minuman ringan
~ Hindari mengkonsumsi makanan berlemak terlalu sering
~ Kurangi mengkonsumsi camilan
~ Biasakan mengkonsumsi makanan dengan gizi cukup dan seimbang
~ Konsumsilah sayuran dan makanan kaya serat
~ Lakukanlah aktivitas fisik untuk membakar kalori

Sayangilah anak anda dengan menghindarkannya dari penyakit turunan.


ASI, Sumber DHA dan ARA Terbaik bagi Bayi

Para ibu haruslah memberikan nutrisi terbaik bagi awal kehidupan buah hatinya, dan mendapatkan informasi yang cukup tentang berbagai hal yang bermanfaat bagi bagi tumbuh kembang anak.

Air susu ibu (ASI) adalah sumber gizi yang terbaik yang dapat diberikan para ibu kepada bayinya. Untuk itu para ibu sebaiknya memberikan ASI kepada bayi mereka secara eksklusif, paling tidak hingga usia 6 bulan.

Salah satu alasan dibalik pendapat itu adalah para bayi yang mendapatkan ASI umumnya perkembangan otak dan jaringan sarafnya lebih baik daripada mereka yang mendapatkan susu formula.

Selidik punya selidik ternyata diketahui bahwa ASI mengandung sejumlah kecil DHA dan ARA (sekitar 1% dari total asam lemak untuk DHA dan sekitar 0,5% dari total asam lemak untuk ARA). Meskipun jumlahnya sedikit, DHA dan ARA ternyata penting dalam perkembangan intelektual dan daya penglihatan anak.

Istilah DHA dan ARA memang sudah tidak asing bagi para ibu yang selama ini dikenal berperan penting dalam mengoptimalkan perkembangan otak, jaringan syaraf, jaringan penglihatan, dan membantu pembentukan sistem imun pada bayi.

Telah banyak organisasi ilmiah yang merekomendasikan pemberian ARA dan DHA pada anak, diantaranya FAO/WHO, The European Society for Pediatric Gastroenteorology and Nutrition, International Society for the Study of Fatty Acids and Lipids, dan The British Nutrition Foundation.

Dr. Craig Jensen, Associate Profesor dari Baylor College of Medicine, Texas Children's Hospital yang hadir sebagai pembicara seminar bertajuk "Kadar Asupan DHA dan ARA yang Tepat dan Stimulasi sejak Dini untuk Nilai IQ Anak yang Lebih Baik", pada 25 Maret di Jakarta, mengatakan bahwa DHA dalam konsentrasi tinggi ditemukan pada otak dan retina merupakan komponen penting pada selaput phospolipids, yang termasuk dalam sistem syaraf. Begitu juga dengan ARA, merupakan komponen penting bagi struktur sel selaput phospolipids, yang termasuk dalam sistem pusat syaraf.

Menurut Dr. Craig Jensen, hasil temuan terbaru dari uji klinis yang dilakukan oleh DR. E.Birch menunjukkan bahwa anak-anak berusia 4 tahun yang mendapatkan asupan DHA/ARA dengan kadar 0,36% DHA (90mg DHA/100g) dan 0,72% ARA (180mg ARA/100g) selama empat bulan pertama menunjukkan Mental Development Index dan Nilai IQ yang lebih tinggi 7 poin dibandingkan dengan merek yang tidak mendapatkan asupan DHA dan ARA dalam kadar tersebut. Studi lain juga menunjukkan bahwa skor IQ yang kurang lebih sama tingginya pada usia dewasa.

Saat DHA dan ARA absen dari makanan bayi (misalnya pada bayi yang mendapat susu formula tanpa DHA/ARA), atau kadarnya rendah (misalnya pada bayi prematur), ternyata timbul penurunan ketajaman penglihatan dan kecerdasan bayi. Kesimpulan ini juga disokong oleh beberapa penelitian yang menemukan bahwa:

Bayi yang mendapatkan susu formula yang diperkaya dengan LC-PUFA (contohnya DHA dan ARA) menunjukan ketajaman penglihatan yang lebih baik daripada mereka yang mendapatkan susu formula tanpa LC-PUFA.

Bayi yang mendapatkan susu formula dengan DHA dan ARA memiliki ketajaman penglihatan yang sama dengan bayi bayi yang mendapat ASI, sementara mereka yang mendapatkan susu formula tanpa DHA dan ARA ketajaman penglihatannya lebih rendah.

Bayi yang mendapatkan susu formula yang diperkaya dengan DHA dan ARA mengalami peningkatan kemampuan intelektual dibandingkan mereka yang mendapat susu formula tanpa DHA dan ARA.

Pada bayi prematur yang mendapat tambahan DHA dalam makanannya ternyata menunjukan peningkatan perkembangan sel sel di retina dan ketajaman penglihatan, serta peningkatan perkembangan sel sel di korteks otak dan kemampuan belajar serta mengolah informasi. Karena itu, kini dianggap bahwa DHA dan ARA merupakan salah satu sebab adanya perbedaan kecerdasan dan daya penglihatan bayi bayi yang mendapatkan ASI dibandingkan bayi bayi yang mendapatkan susu formula (yang umumnya tidak mengandung DHA).

Sehingga untuk memperoleh kandungan DHA dan ARA yang tinggi dalam ASI, maka diet ibu hamil juga harus diperhatikan, karena dalam beberapa makalah disebutkan kandungan DHA dalam ASI bervariasi, terggantung dari banyaknya asupan asam lemak dalam diet ibu. Penelitian membuktikan bahwa ketika ibu mendapat tambahan DHA dalam dietnya, kandungan DHA dalam ASI juga akan meningkat. karena itu, sebaiknya ibu mendapatkan DHA dan ARA dalam jumlah yang cukup selama menyusui. Sumber DHA dalam makanan antara lain: ikan laut (misalnya salmon), minyak ikan, daging dan telur.

Lalu apa sebenarnya fungsi DHA dan ARA dalam perkembangan otak dan mata bayi? DHA dan ARA merupakan komponen utama lemak membran sel dan merupakan asam lemak tak jenuh rantai panjang (LC-PUFA) utama dalam sistem saraf pusat. DHA juga merupakan komponen utama membran sel fotoreseptor retina. Melihat peranannya yang vital, wajar jika kekurangan DHA dan ARA dapat berpengaruh pada perkembangan otak dan mata bayi.

Otak bertumbuh maksimal sejak 3 bulan terakhir dari masa kehamilan sampai kurang lebih usia 2 tahun. Karena itu, dalam periode tersebut bayi sebaiknya mendapat DHA dan ARA dalam jumlah cukup, yang dapat diperoleh dari ASI.
sumber: perempuan.com

Angka kematian bayi stagnan
Indonesia masih harus berjuang keras untuk memperbaiki indikator pembangunan kesehatan, khususnya tingkat  kematian bayi, karena tren angka kematian bayi selama empat tahun terakhir belum menurun. Rata-rata angka kematian bayi pada periode 2003-2007 relatif stagnan di kisaran 34 per 1.000 kelahiran.
Kondisi ini menjadi sorotan utama yang disampaikan oleh Dr Budihardja, Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. "Kita perlu mempercepat pencapaian target angka kematian bayi di Indonesia. Berdasarkan target Tujuan Pembangunan Milenium (MGDs), pada tahun 2015 angka kematian bayi adalah 19 dari tiap 1.000 kelahiran," kata Budihardja, di Jakarta, Kamis (23/10).
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa angka kematian bayi pada tahun 1990 tercatat masih mendekati 70, namun lima tahun kemudian tepatnya 1995 angka tersebut berkurang hingga menjadi sekitar 66 bayi tiap 1.000 kelahiran. Penurunan tajam terjadi di periode tahun 1997, di mana angka kematian bayi turun ke level sedikit di bawah 50. Dan kembali penurunan yang signifikan tercapai di tahun 2003, sehingga rasio kematian bayi tiap 1.000 kelahiran adalah 35 bayi.
"Angka kematian bayi mengalami penurunan yang tajam antara tahun 1990-2000an, tapi selanjutnya terlihat stagnan," kata dia mengutip data Susenas (Survei Kesehatan Nasional) tahun 2005.
Dari total angka kematian bayi yang masih sangat tinggi itu, masih kata Budihardja, sekitar 80-90 persen dapat dicegah dengan teknologi sederhana yang tersedia di tingkat Puskesmas dan jaringannya. Di sisi lain, indikator utama pembangunan kesehatan berupa angka kematian ibu saat melahirkan pun setali tiga uang dengan angka kematian bayi.
Pada saat ini diperkirakan 228 orang ibu meninggal dalam tiap 1.000 proses persalinan di Indonesia. Angka kematian ibu saat melahirkan yang ditargetkan dalam MDGs pada tahun 2015 adalah 110, dengan kata lain akselerasi sangat dibutuhkan sebab pencapaian Indonesia terhadap target ini masih cukup jauh. (Ant/OL-06)
sumber: Mediaindonesia.com

Kurang Asam Folat Bisa Sebabkan Bayi Cacat

Kekurangan asam folat pada ibu hamil, berdasarkan penelitian, bisa menyebabkan terjadinya kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Bayi mengalami cacat pada otak dan sumsum tulang belakang.

Menurut dr Noroyono Wibowo SpOG, Kepala Subbagian Fetomaternal Departemen Obestetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), dalam semiloka manfaat asam folat yang diselenggarakan di Jakarta, beberapa waktu lalu, asam folat merupakan enzim untuk memproduksi DNA (Deoxyribose Nucleic Acid).

''Asam folat juga penting dalam membantu pembelahan sel. Asam folat juga bisa mencegah anemia dan menurunkan risiko terjadinya NTD (Neural Tube Defects) dan sebagai antidepresan,'' kata Bowo.

Sering kali para ibu tidak mengetahui dirinya kekurangan asam folat karena sebagian besar kehamilan terjadi tanpa direncanakan. ''Kebanyakan pasutri (pasangan suami istri) tidak pernah merencanakan kehamilan. Tahu-tahu ibu langsung hamil setelah telat datang bulan. Mereka baru datang ke dokter setelah positif hamil beberapa minggu.''

Karena itu, ibu pun sering tidak membekali diri dengan gizi yang mencukupi ketika sebelum dan sesudah kehamilan. ''Kalau kehamilan direncanakan, maka ia akan mempersiapkan gizi yang baik sebelum hamil. Padahal, kebutuhan asam folat untuk ibu hamil harus disiapkan sejak sebelum kehamilan.''

Di Indonesia sendiri belum ada data pasti berapa besarnya prevalensi adanya penyakit kelainan sumsum tulang belakang. ''Jumlah angka kematian bayi di Indonesia masih relatif tinggi. Kematian bayi ini belum diidentifikasi penyebabnya apa, karena belum ada data. Salah satu penyebab kematian bayi adalah kekurangan asam folat,'' ujar Bowo.

Kekurangan asam folat menyebabkan bayi lahir dengan bibir sumbing, bayi dengan berat badan rendah, Down's Syndrome, dan keguguran. ''Bayi mengalami kelainan pembuluh darah. Rusaknya endotel pipa yang melapisi pembuluh darah, menyebabkan lepasnya plasenta sebelum waktunya.''

Kelainan lainnya adalah bayi mengalami gangguan buang air besar dan kecil, anak tidak bisa berjalan tegak dan emosi tinggi. Pada anak perempuan saat dewasa tidak mengalami menstruasi.

Pada ibu hamil kekurangan folat menyebabkan meningkatnya risiko anemia, sehingga ibu mudah lelah, letih, lesu, dan pucat.

Sumber makanan yang mengandung asam folat adalah hati sapi (liver), brokoli, jeruk, bayam, dan sebagainya. ''Roti dan susu juga mengandung asam folat tinggi, sebab kini susu dan tepung terigu telah difortifikasi mengandung asam folat,'' jelas Dr Tim Green PhD dari Department of Human Nutrition University of Otago New Zealand

Hanya saja hati sapi mengandung vitamin A cukup tinggi. Pemberian vitamin A pada ibu hamil sangat tidak dianjurkan karena menyebabkan gangguan kehamilan. Oleh sebab itu, pengganti hati sapi adalah susu.

Kebutuhan asam folat untuk ibu hamil dan usia subur sebanyak 400 mikrogram/hari atau sama dengan dua gelas susu. ''Mengonsumsi folat tidak hanya ketika hamil, tetapi sebelum hamil sangat dianjurkan. Banyak negara telah melakukan kebijakan dalam pengurangan NTD dengan mewajibkan ibu mengonsumsi asam folat,'' tuturnya.

Posyandu: Penting untuk Kesehatan Ibu dan Anak

Sosoknya memang sederhana. Namun bila berfungsi sebagaimana mestinya, Posyandu mampu meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak. Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) Tulip. Begitu sebaris tulisan yang terpampang di depan bangunan sederhana di dekat tempat tinggal Mini, ibu muda dengan dua anak. Sebagai warga yang baik, Mini tak pernah lupa membawa anak balitanya ke Posyandu itu.

Namun, ada yang menggelitik benak Mini berkait dengan kegiatan di Posyandu itu. Ia heran, kegiatan di Posyandu itu sangat 'ala kadarnya'. ''Anak-anak ditimbang, dicatat, dikasih makanan, lalu pulang,'' katanya. Mini yang bersuamikan seorang pegawai negeri sipil (PNS) ini, merasa kegiatan seperti itu belumlah cukup. Mestinya, dia bilang, ada kader atau petugas Puskesmas yang memberikan advokasi atau saran-saran pada orang tua yang anak-anaknya bermasalah dengan kesehatan atau berat badannya tak sesuai dengan grafik KMS (Kartu Menuju Sehat). Hal lain yang diperhatikan Mini adalah makanan yang diberikan pada para balita yang datang ke Posyandu. ''Bagaimana Posyandu bisa mendukung gizi mereka, kalau yang diberikan cuma sepotong kue lapis atau secangkir bubur kacang hijau cair.''

Tak cuma Mini. Surutnya peran Posyandu juga dirasakan oleh seorang konsultan gizi dari UNICEF Indonesia, dokter Benny Soegianto MPH. Karena itu, ia sangat setuju dengan seruan yang dilontarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum lama ini untuk merevitalisasi Posyandu. ''Saya kira, ini momentum yang sangat tepat,'' kata Benny, seusai berceramah di depan para kader Posyandu Mager Sari, Kelurahan Ketabang (RW I), Surabaya, Jawa Timur, Rabu (15/6) lalu. Ceramah ini disampaikan dalam rangkaian Kampanye Minum Susu 2005 yang diprakarsai PT Tetra Pak Indonesia, sebuah perusahaan global yang bergerak di bidang pengemasan dan pemrosesan pangan. Selain Surabaya, kampanye ini juga digelar di lima kota lainnya di Indonesia yaitu Denpasar, Semarang, Yogyakarta, Bandung, dan Medan.

Lebih jauh Benny menjelaskan, jika berfungsi sebagaimana mestinya, Posyandu bisa memonitor tumbuh kembang balita yang menjadi anggotanya. Ia kemudian memberi contoh tentang anak-anak Indonesia yang mengalami gizi buruk. Menurutnya, 99 persen anak-anak bergizi buruk itu, sebenarnya lahir dengan berat badan normal. Mungkin saja, tiap bulan berat badan si anak naik, tapi hanya dua ons per bulan. Alhasil, ketika berumur setahun, berat badan si anak cuma sekitar 5-6 kg. Ini sangat kurang. ''Mengapa hal itu terjadi? Karena tidak ada yang memonitor. Lalu, siapa yang mestinya memonitor? Tentunya Posyandu,'' jelas ahli gizi yang juga mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya ini.

Lima meja di Posyandu

Lebih jauh Benny menjelaskan, setiap Posyandu memiliki lima meja yaitu meja pendaftaran, meja penimbangan, meja pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat), meja komunikasi, dan meja tindakan. Nah, dari kelima meja ini, titik terlemah ada di meja keempat yaitu meja komunikasi. Ini pula yang terjadi di Posyandu Tulip, dekat rumah Mini. Padahal, meja empat ini memegang fungsi sangat penting. Di sini, hasil penimbangan seorang anak dikomunikasikan.

Jika diketahui berat badan seorang anak anjlok (di bawah grafik KMS), petugas di meja lima bisa melakukan intervensi dengan mencari tahu penyebab turunnya berat badan si anak lalu memberikan saran-saran. ''Untuk anak yang berat badannya kurang, petugas bisa menyarankan sang ibu untuk memberikan nasi goreng.'' Mengapa nasi goreng? ''Nasi biasa sebanyak 100 gram hanya memiliki 180 kalori. Tapi kalau nasi itu dimasak dengan tambahan tiga sendok minyak, maka akan ada tambahan 270 kalori. Ini akan membuat berat badan anak cepat naik,'' kata Benny yang juga mengajar di Akademi Gizi Surabaya.

Selain nasi goreng, ada saran lain dari Benny untuk para ibu yang anaknya memiliki berat badan kurang. ''Berilah si anak kudapan berupa kolak. Boleh juga memberikan nasi dicampur mentega.'' Selain pemantauan berat badan balita, banyak hal lain yang bisa dilakukan di Posyandu yaitu: KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), KB (Keluarga Berencana), gizi, imunisasi, dan penanggulangan diare. ''Jadi, kalau diibaratkan, Posyandu ini seperti one stop shopping.'' Lalu, apa yang mesti dilakukan untuk 'menghidupkan' kembali Posyandu? Tentang hal ini Benny mengatakan bahwa Posyandu sebenarnya merupakan tanggung jawab kolektif dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Untuk mengaktifkannya kembali butuh kesadaran dan ketelatenan pihak-pihak yang terkait.

Misalnya saja, Posyandu kurang dana. Dalam hal ini, mestinya pemerintah daerah yang menyediakan. Nah, kalau pemerintah belum punya dana, mungkin masyarakat bisa mengambil peran itu. Misalnya saja, ada anggota masyarakat yang mampu secara ekonomi, bisa saja menjadi 'orang tua asuh' untuk Posyandu. ''Atau, jika di RW (Rukun Warga) itu ada lima orang saja yang mau menyumbang setiap bulan Rp 10 ribu, itu sudah lumayan sekali untuk Posyandu.'' Proses regenerasi juga dinilai Benny sebagai hal yang sangat penting. ''Karena kan pasti ada kader yang sudah sepuh (tua), atau ibu-ibu yang harus pindah ke daerah lain ikut suami. Nah, jadi perlu ada proses rekruitmen (kader Posyandu).''

Jangan lupakan susu

Sementara itu dalam seminar yang digelar di Graha Sawunggaling, Surabaya, sehari sebelumnya, Benny menekankan pentingnya susu bagi balita hingga lansia. Seminar yang dihadiri sekitar 300 kader Posyandu di Kota Surabaya ini juga digelar dalam rangkaian Kampanye Minum Susu 2005. Susu, tak dapat dipungkiri, merupakan minuman yang menyehatkan. Kandungan gizinya terhitung lengkap. Susu mengandung kalsium, fosfor, hingga protein. Selain itu, susu juga mengandung sejumlah vitamin, di antaranya vitamin A dan D.

Mengingat gizinya yang lengkap itu, para ibu hamil disarankan meminumnya. Dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang ditambah susu, maka ibu hamil akan terhindar dari anemia (kurang darah). Dengan begitu, pertumbuhan otak dari janin yang dikandung akan maksimal. Para lansia yang memiliki risiko osteoporosis juga perlu sekaliminum susu. Ini karena susu memiliki kandungan kalsium yang tinggi. Kalsium sendiri, bukan rahasia lagi, adalah zat gizi yang sangat baik untuk kesehatan tulang.

Bagaimana dengan bayi? Untuk bayi berumur 0-6 bulan, air susu ibu (ASI)-lah yang terbaik. Jangan lupakan pula untuk memberi kolostrum pada bayi yang baru lahir. Seperti dikatakan Benny, ASI yang baru saja keluar itu mengandung sejumlah zat penting. ''Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi untuk menjaga kekebalan bayi,'' kata Benny dalam seminar yang juga dihadiri oleh Ricky Soebagdja, mantan pebulutangkis nasional yang menjadi duta kampanye minum susu, serta Mignonne NB Maramis, direktur komunikasi Tetra Pak.

Selain itu, kolostrum juga mengandung zat pencahar untuk melancarkan pengeluaran mekonium (kotoran pada bayi baru lahir) agar bayi tidak mengalami ikterus (kuning). Kolostrum juga mengandung vitamin A kadar tinggi, serta zat pemacu pertumbuhan dan pematangan sel mukosa usus, sehingga si kecil tidak mudah mengalami alergi.

Benny juga menyarankan para ibu untuk menyusui anaknya hingga dua tahun. Bagaimana dengan susu formula? ''Itu sebaiknya diberikan dalam keadaan darurat, misalnya si ibu karena sesuatu hal tidak bisa menyusui bayinya.'' Nah, ketika bayi berusia di atas enam bulan, boleh-boleh saja si kecil diberikan susu bukan ASI sebagai makanan tambahan atau makanan pendamping ASI. Tapi ingat, jangan berikan susu kental manis. Mengapa? Sebab, susu jenis ini terlalu banyak mengandung gula.

Bagaimana pula dengan susu bubuk? Diakui Benny, dibanding susu cair, kandungan gizi susu bubuk memang lebih rendah. Dalam hal ini, ada beberapa vitamin yang hilang seperti vitamin B dan C. Namun jangan khawatir, karena produk susu bubuk saat ini juga mengalami fortifikasi (pengayaan), sehingga bisa ditambah multivitamin dan mineral. ''Saat ini, susu bubuk merupakan wahana untuk memberikan asupan berbagai zat penting yang kandungannya dalam makanan biasanya kurang.'' Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, Benny menyarankan, anak-anak sebaiknya minum dua gelas susu setiap hari.

Namun, minum susu saja belum cukup. ''Selain minum susu, kita juga harus membarenginya dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang,'' tambah Mignonne pada seminar yang sama. Mengenai kampanye minum susu yang telah dilaksanakan sejak tahun 2004 ini, Mignonne mengatakan, program ini dilandasi oleh keprihatinan akan rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia. Saat ini, konsumsi susu di Indonesia baru mencapai sekitar 7 liter/orang/tahun. Bandingkan dengan Malaysia yang telah mencapai 21 liter/orang/tahun, atau Thailand sebanyak 24 liter/orang/tahun. ''Hal ini merupakan kenyataan yang patut mendapat perhatian dari semua pihak,'' demikian Mignonne.


Hamillah Tiga Tahun Lagi

Menjaga jarak kehamilan tak hanya menyelamatkan ibu dan bayi dari sisi kesehatan, namun juga memperbaiki kualitas hubungan psikologis keluarga.

Wanita berbaju bunga-bunga itu tampak repot ketika masuk kamar periksa sebuah klinik bersalin di kawasan Bekasi. Langkahnya tergopoh-gopoh. Tangan kanannya memegangi perut buncitnya, sementara tangan kiri menggandeng bocah lelaki berusia setahun. Seorang suster membantu perempuan berusia 37 tahun itu. "Suami saya masih berlayar. Ini jadwal pemeriksaan bulan kedelapan. Biasanya saya periksa dibantu seorang pembantu. Tapi hari ini si bibi mesti di rumah menjaga anak sulung saya berusia tiga tahun yang sakit panas," tuturnya dengan suara kelelahan.

Mungkin Anda kerap melihat pemandangan ini di lakon-lakon sinetron, namun kenyataannya begitulah yang sering kita temui. Zaman boleh berlalu, teknologi boleh silih berganti memperbarui diri, namun keinginan orang beranak banyak tanpa memperhatikan jarak kelahiran tetap saja mudah ditemukan. Maklum saja, rata-rata orang masa kini menikah pada usia lebih dari 20 tahun. Terkejar oleh faktor usia, dibuatlah pengaturan jarak kelahiran anak secepat mungkin sebelum usia melahirkan si ibu di titik rawan di atas usia 35 tahun.

Beberapa waktu lalu John Hopkins Bloomberg School of Public Health mengeluarkan ringkasan laporan kependudukan. Isinya mengenai tren jarak kelahiran anak yang semakin panjang antara tiga sampai lima tahun. Laporan itu menjelaskan jarak tahun kelahiran panjang ini bermanfaat bagi kesehatan anak maupun ibunya, termasuk menciptakan peluang memaksimalkan pertumbuhan anak.

Laporan itu pun menyinggung beberapa negara seperti Bhutan, Mesir, Kenya, Vietnam, Indonesia, dan Zimbabwe memiliki kecenderungan orangtua segera ingin memiliki anak berikutnya bila anaknya meninggal. Hal ini berbeda bila anak pertamanya tumbuh sehat dan cerdas. Untuk memperkuat laporan itu, berdasarkan data the Demographic and Health Survey (DHS) dari tahun 1990 sampai 2001 membuktikan, wanita cenderung melahirkan kembali anak berikutnya lebih cepat atau kurang dari tiga tahun, jika anak terdahulu meninggal atau kurang sehat seperti yang diharapkan. Data DHS di 46 negara menunjukkan bila anak meninggal, rata-rata jarak kelahiran berikutnya menjadi 60 persen lebih pendek dibandingkan bila anak terdahulunya hidup. Perempuan yang mengalami keguguran biasanya juga ingin cepat kembali memiliki anak.

Penelitian DHS juga menemukan di 55 negara termasuk Indonesia, wanita yang tinggal di pedesaan cenderung memilih jarak kelahiran lebih pendek atau kurang dari tiga tahun. Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan di desa yang mendorong segera punya anak kembali. Bila si wanita itu tidak segera hamil kembali maka akan mendapat cemoohan. Biasanya wanita berstatus sosial lebih rendah dan tidak bekerja, memilih jarak melahirkan lebih pendek.

Penelitian ini juga memerinci keberhasilan beberapa negara yang wanitanya berpendidikan lebih tinggi cenderung menggunakan kontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran. Wanita berpendidikan ini umumnya menyadari perlunya mengatur jarak kelahiran. Sebaliknya, di Indonesia wanita yang berpendidikan tinggi umumnya menikah di atas usia 30 tahun. "Banyak yang memilih jarak pendek untuk melahirkan anak sebelum para wanita berusia 35 tahunan ke atas," tutur Wongso Hakim, dokter kebidanan rumah bersalin Asih, Jakarta.

Di mata dokter berusia 55 tahun ini tidak dipungkiri dari aspek kesehatan jarak ideal kelahiran ini sangat bagus untuk ibu dan anak. Ia sangat setuju pada hasil penelitian DHS yang menyebutkan anak-anak yang lahir dengan jarak tiga sampai lima tahun memiliki kemungkinan hidup sehat yang lebih besar. "Dibandingkan anak-anak yang lahir dengan jarak kelahiran kurang dari dua tahun, maka anak-anak dengan jarak kelahiran ideal ini memiliki kelangsungan hidup lebih baik dan tinggi. Kondisi begini bisa berlangsung sampai si anak berusia balita," katanya.

Mengutip temuan penelitian DHS itu, Wongso bersepakat anak yang lahir dengan jarak ini tidak akan menderita kekerdilan atau kekurangan berat badan. Bahkan si anak memiliki nilai gizi yang bagus. Intinya jarak kelahiran ini akan meningkatkan kesehatan ibu dan anak," tutur Wongso.

Sementara itu, menurut psikolog Diana Tamrin, dari aspek kejiwaan rentang kelahiran ideal ini memberikan kesempatan orangtua lebih intensif mencurahkan waktu bagi anak pada awal usianya. Pun orangtua akan mendapat waktu banyak buat beraktivitas, membesarkan anak, dan meredakan tekanan finansial atau biaya kebutuhan. Ia menilai jarak kelahiran anak di bawah tiga tahun justru bisa menimbulkan kerepotan mengasuh anak, tekanan ekonomis dan selang waktu pendek kelahiran jelas berisiko buruk terhadap kesehatan balita dan ibunya.

Diana melihat pengalaman yang terjadi di masyarakat, anak-anak yang dilahirkan dengan jarak terlalu rapat biasanya mengalami perkembangan fisik dan mental yang kurang memuaskan, bila dibanding anak-anak yang jarak kelahirannya tiga sampai lima tahun. "Aspek fisiknya bagi si ibu yang melahirkan berjarak terlalu rapat cepat lelah, gampang sakit, dan mudah stres. Apalagi bila si ibu memiliki dua atau tiga anak dengan rentan usia kelahiran yang pendek bisa merepotkan emosinya mengasuh, memelihara dan mendidik anak," katanya mencontohkan. Bila kondisi ekonominya bagus si ibu bisa membayar beberapa pembantu atau pengasuh. Toh, tetap saja aspek kejiwaan si ibu harus bersalto dalam membagi peran untuk memahami perkembangan jiwa anak-anaknya itu.

Pengasuh rubrik psikologi keluarga di media cetak ini juga menyebutkan bagi si anak berusia di bawah dua tahun, kelahiran atau kehadiran si adik justru menjadi salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan dan pertumbuhannya. Dengan kelahiran baru itu, penyusuan ibu terhadap si abang atau kakak tadi terpaksa dihentikan. Bahkan ada juga ibu yang kemudian tidak memiliki cukup waktu untuk menyediakan makanan yang diperlukan bagi anak-anaknya.

Selain itu, jarak kelahiran yang terlalu dekat bisa menimbulkan rasa cemburu pada si kakak yang belum siap berbagi kasih sayang orangtuanya. "Banyak kakak-beradik dengan jarak kelahiran terlalu pendek menimbulkan sikap iri atau cemburu. Si kakak tidak gembira atas kehadiran si kecil. Justru si kakak sering menganggapnya musuh karena merampas jatah kasih sayangnya."

Selain kesehatan dan kejiwaan, aspek ekonomi juga tak kalah penting. Diana menyebutkan, semakin banyak keluarga yang merancang kelahiran anak dengan matang karena faktor ekonomi untuk biaya persalinan, perawatan, pemeliharaan, kesehatan, keperluan sekolah termasuk menyiapkan masa depan anak. "Memiliki anak bagi pasangan suami-istri saat ini seperti investasi mahal. Kita harus punya cukup punya modal materi dan spiritual untuk menyambut kehadirannya," katanya. Kalau tidak direncanakan terutama soal penyiapan dananya bisa juga berakibat fatal. "Ada gurauan, punya anak zaman sekarang mahal, jadi harus pintar mengatur jarak kelahirannya karena berarti harus putar otak juga untuk persiapan finansialnya,"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar