Rabu, 01 Juni 2011

Scabies (Sarcoptes scabiei)

     Scabies (kudis)  adalah infeksi menular kulit  dicirikan oleh munculnya terowongan kecil/halus dan berbentuk zigzag atau huruf  ‘S’  dan rasa gatal pada kulit . atau erupsi kulit yang disebabkan infestasi dan sensitasi Hal ini disebabkan oleh tungau/kutu  Sarcoptes scabiei.

                          Gambaran bentuk kutu Scabies

Etiologi
     Sarcoptes scabiei termasuk famili sarcoptidaedari kelas Arachnida, berbentuk lonjong, punggungnya cembung, dan bagian perutnya rata. Besar tungau ini sangat bervariasi, yang betina berukuran kira-kira 0,4 mm x 0,3 mm sedangkan yang jantan ukurannya lebih kecil 0,2 mm x 0,15 mm. Tungau ini ini translusen dan bewarna putih kotor, pada bagian dorsal terdapat bulu-bulu dan duri serta mempunyai 4 pasang kaki, bagian anterior 2 pasang sebagai alat untuk melekat sedangkan 2 pasang sebagi alat untuk melekat sedangkan 2 pasang kaki terakhir pada betina berakhir  dengan rambut. Pada yang jantan pasangan kaki yang ketiga berakhir dengan rambut dan yang keempat berakhir dengan alat perekat (Hamzah, 2007).

Siklus Hidup
     Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Tungau betina yang telah dibuahi mempunyai kemampuan untuk membuat terowongan pada kulit sampai di perbatasan stratumm korneum dan startum granulosum dengan kecepatan 0,5-5 mm per hari. Di dalam terowongan ini tungau betina akan bertelur sebanyak 2-3 butir setiap hari. Seekor tungau betina akan bertelur sebanyak 40 50 butir semasa siklus hidupnya yang berlangsung kurang lebih 30 hari. Telur akan menetas dalam waktu 3-4 hari dan menjadi larva kemudian berubah menjadi nimfa dengan 4 pasang kaki dan selanjutnya menjadi tungau dewasa. Siklus hidup tungau mulai dari telur sampai dewasa memerlukan waktu selama 8-12 hari (Hamzah, 2007).

Epidemilogi
     Skabies merupakan merupakan penyakit endemi pada banyak masyarakat. Penyakit ini dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. Penyakit ini banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda, tetapi dapat mengenai semua umur. Insidens sama pria dan wanita. Insidens skabies di negara berkembang menunjukkan siklus fluktuasi yang sampai saat ini belum dapat dijelaskan. Interval antar akhir dari suatu epidemi dan permulaan epidemi berikutnya kurang lebih 10-15 tahun (Harahap, 2000). Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: sosial ekonomi yang rendah, hygiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografik serta ekologik. Penyakit ini dapat dimasukkan dalam P.H.S (Penyakit Akibat Hubungan Seksual). 
         Cara penularan (Transmisi) :
  • Kontak langsung (kontak dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual.
  • Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain – lain.
     Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes scabiei varanimalis yang kadang-kadang dapat menulari manusia, terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaan misalnya kucing, anjing (Handoko, 2007).

Patogenesis
     Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau scabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitasi terhadap skreta dan eksreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vasikel, urtika, dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskrosi, krusta, infeksi sekunder. Masa inkubasi skabies bervariasi, ada yang beberapa minggu bahkan berbulan-bulan tanpa menunjukkan gejala. Menunjukkan gejala dimulai 2-4 minggu setelah penyakit dimulai dari orang yang sebelumnya pernah menderita scabies maka gejala akan muncul 1 sampai 4 hari setelah infeksi ulang (Harahap, 2000).

Bentuk-bentuk khusus Scabies, yaitu :            1) Scabies pada orang bersih
     Scabies yang terdapat pada orang yang tingkat kebersihannya cukup bisa salah didiagnosis. Biasanya sangat sukar ditemukan terowongan. Kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur.
            2) Scabies pada bayi dan anak
     Lesi scabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa empitigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi terdapat dimuka.
           3) Scabies yang ditularkan oleh hewan
     Sarcoptes scabiei varian canis dapat menyerang manusia yang pekerjaannya berhubungan erat dengan hewan tersebut. Misalnya peternak dan gembala. Gejal ringan, rasa gatal kurang, tidak timbul terowongan, lesi terutama terdapat pada tempat-tempat kontak. Dan akan sembuh sendiri bila menjauhi hewan tersebut dan mandi bersih.
           4) Scabies Noduler
     Nodul terjadi akibat reaksi hipersensitivitas. Tempat yang sering terjadi adalah genetalia pria, lipat paha, dan aksila. Lesi ini dapat menetap beberapa minggu hingga beberapa bulan, bahkan satu tahun walaupun telah mendapatkan pengobatan anti scabies.
          5) Scabies Inkognito
     Obat steroid tropikal atau sistemik dapat menyamarkan gejala dan tanda scabies, sementara infestasi tetap ada. Sebaliknya, pengobatan dengan steroid topikal yang lama dapat pula menyebabkan lesi bertambah hebat. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena penularan respon imun seluler.
          6) Scabies terbaring ditempat tidur (bed-ridden)
     Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat menderita scabies yang lesinya terbatas.
          7) Scabies krustosa (Norwegian scabies)
     Lesinya berupa gambaran eritrodemi, yang disertai skuamageneralisata, eritema, dan distrofi kuku. Krusta terdapat banyak sekali. Krusta ini melindungi Sarcotes scabiei dibawahnya. Bentuk ini sering salah didiagnosis, malah kadang diagnosisnya baru dapat ditegakkan setelah penderita menularkan penyakitnya ke orang banyak. Sering terdapat pada orang tua dan orang yang menderita retardasi mental (Down’s syndrome), sensasi kulit yang rendah (lepra, syringomelia dan tabes dorsalis), penderita penyakit sistemik yang berat (leukimia dan diabetes), dan penderita imunosupresif (misalnya pada penderita AIDS atau setelah pengobatan glukokortikoid atau sitotoksik jangka panjang).


Tanda-tanda dan Gejala
      Karakteristik gejala infeksi scabies  yaitu lubang-lubang yang kecil dan membentuk terowongan pada kulit, intens pruritus (gatal), ruam yang umum dan infeksi sekunder. Acropustulosis, atau lepuhan dan jerawat di telapak tangan dan  kaki, adalah karakteristik gejala kudis di bayi.
      Bentuk jalur seperti huruf ‘S’ di kulit, sangat halus, khas gigitan serangga yang seperti bengkak-bintil. Bintil dan terowongan ini seringkali berlokasi di crevasses (celah-celah yang dalam) dari tubuh, seperti antar jari, kaki, pantat, siku-siku, daerah pinggang, daerah kelamin, dan di bawah dada perempuan.
      Gatal dan ruam yang berulang merupakan karakteristik dari infeksi scabies, hal ini disebabkan oleh reaksi alergi dari tubuh terhadap munculnya terowongan kecil (mikroskopis) yang dibuat oleh scabies. Ruam dapat ditemukan lebih banyak pada tubuh, yang berkaitan dengan gatal dan paling sering terjadi pada malam hari.
Infeksi Sekunder sering karena impetigo yaitu sejenis  infeksi bakteri  setelah timbulnya goresan pada kulit. Selulit mungkin juga terjadi, menyebabkan pembengkakan lokal, kemerahan dan sakit panas.  Pada individu yang belum pernah terkena scabies, tanda-tanda dan gejala klinis adalah 4-6 minggu setelah dihinggapi tungau ini.

Penularan 
     Scabies sangat menular dan dapat disebarkan melalui garukan atau memungut (secara tak sengaja) kemudian tersimpan di bawah kuku tangan lalu menyentuh kulit orang lain. Mereka juga dapat menyebar ke objek lainnya seperti keyboard, toilet, pakaian, handuk, selimut, mebel, dan obyek lain yang bisa membuat scabies keluar dari tubuh seseorang. Namun, parasit ini cenderung  mati jika di luar tubuh manusia selama lebih dari 72 jam.
     Scabies dapat selalu siap ditularkan kepada seluruh anggota suatu rumah tangga, melalui kontak kulit-kulit atau suatu kontak obyek yang sama  dengan orang yang terinfeksi (misalnya tempat tidur mitra, teman sekolah, dan lain sebagainya). Dapat juga menyebar melalui pakaian, selimut, atau handuk. Mencuci pakaian di air  yang sangat panas dan dikeringkan dengan  panas yang tinggi akan membantu mencegah penularan. Jika pakaian tidak boleh dicuci, maka dapat menggunakan penyemprotan permethrin.

Diagnosis dan pengobatan
Mohon menanyakan hal ini  pada dokter.

Kesehatan Umum dan Strategi Pencegahan
      Tidak ada vaksin yang tersedia untuk Scabies. Karena itu, sebagian besar fokus dan strategi ditujukan untuk mencegah infeksi ulang. Semua keluarga dan teman kontak harus dirawat pada saat yang sama, meskipun tidak bergejala. Pembersihan lingkungan hidup harus dilaksanakan secara bersamaan, karena ada risiko Infeksi kembali. Oleh karena itu dianjurkan untuk mencuci dengan air panas (seperti pakaian, selimut, dan handuk) yang telah bersentuhan dengan kutu Scabies.

     Membersihkan lingkungan harus mencakup:
  • Perlakuan terhadap mebel dan selimut.
  • Vacuuming lantai,  dan karpet/permadani.
  • Pembersihan dan pemberian disinfektan pada lantai kamar mandi dan permukaan.
  • Pembersihan  shower / bath tub  setiap kali digunakan.
Tambahan: Pilihan untuk melawan rasa gatal yaitu pemberian antihistamines seperti chlorpheniramine.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar